,

Jagoanku Pergi ke “SURGA”

Ya Allah, Aku tak tega melihat semua ujian ini. Selama hafizh terbaring di rumah sakit, akulah yang selalu menemaninya, dan ada disampingnya. Hafizh menangis dengan suara serak, aku mendengar ia berkali kali mengucapkan “nda … nda .. enyeh enyeh” sepertinya dia sudah sangat kehausan.

Sekali lagi aku meneteskan air mata. Aku bisikkan ia dengan lembut “Hafizh sayang, yang kuat yah. Ada bunda disini, kamu pasti cepet sembuh ko, nanti kalo udh sembuh kamu nenen yg banyak yah biar cepet ndut :’)”

kataku sambil menangis terisak. Kemudian hafizh terdiam, ia berhenti menangis. Kulihat hafizh menatapku dalam dalam, seperti pertanda kalau ia akan meninggalkan aku pergi selamanya. Aku pun tersenyum membalas tatapannya. Malam itu pukul 19.00 hafizh sesak parah, nafasnya berbunyi kencang. Kata dokter ia harus segera dibawa ke ruang PICU.

ruangan yang menurutku sangat menegangkan dan memiliki sedikit harapan untuk bisa sembuh kembali. Akupun menangis sekeras kerasnya. Aku mulai bertanya tanya “Ya Allah, kenapa Engkau lakukan ini? Kenapa harus hafizh yang menanggung dosa kedua orang tuanya? Kenapa ya Allah???”.

Hafizh pun masuk ruang PICU pukul 20.00. Rasa tegang dan deg degan selalu menghantui kami sekeluarga. Setiap panggilan dari dokter pasti kondisi hafizh selalu menurun, air mata selalu hadir setiap waktu dan detik. Siang hari, tgl 29 juli 2017 aku dan suamiku dipanggil ke ruangan PICU.

Dokter menjelaskan hasil rotgennya hafizh “jadi gini bu, pak … Bayi hafizh ini mengalami pneumonia sangat berat. Ini hasil rotgennya, seharusnya paru parunya itu berwarna hitam. Tapi disini paru paru bayi hafizh hampir putih semua. Hitamnya hanya sebagian aja. Saya minta tanda tangan untuk persetujuan kalau nanti terjadi hal yang tidak diinginkan ya bu, pak”.

Dengan beratnya aku pun menanda tangani surat persetujuan itu. Seketika pandanganku hilang, semua menjadi gelap. Badanku terasa lemas tak berdaya.

Tak dapat terucap kata kata dari mulutku. Hanya tangisan dan tangisan yang membanjiri pipiku. Suamiku juga menangis, kami hampir putus asa dengan semua cobaan ini. semangat kami agar hafizh sembuh pun mulai melayu. Hanya doa dan tawakal dari kamilah harapan satu satunya agar hafizh cepat sembuh.

“Ya Allah, berikanlah mukjizatMu. Berilah kesembuhan untuk anak hamba ya Allah. Jangan hukum dia. Ia masih terlalu kecil untuk menerima sakit ini ya Allah” tangisku meledak ledak sudah tak terkendali.

Pagi, pukul 07.00 tgl 30 juli 2017 aku dan suamiku pun dipanggil lagi keruangan PICU. Astagfirullahal ‘adzim keadaan hafizh makin memburuk dokter mengatakan bahwa denyut nadinya menurun.

“bu, hafizh keadaannya makin menurun. Denyut nadi itu normalnya 90-100, tapi denyut nadinya hafizh ini 70-60 aja ga naik naik.

       Halaman Selanjutnya      
Loading...